Belajar Bersyukur

Belajar bersyukur, kata itulah yang tepat digunakan untuk kita yang kadang lalai atau bahkan tidak pernah bersyukur sama sekali atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.

Pagi itu nampak cerah, cahaya matahari mulai menyinari bumi dari arah timur, angin berhembus pelan menyentuh kulit dengan lembut.

Memang begitu indah ciptaan-Nya, Tuhan seluruh alam semesta, Allah.

Alhamdulillah, bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Yang mana, kita tidak akan pernah bisa menghitung segala nikmat-Nya. Karena begitu banyak nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, namun jika kamu mengingkari(nikmat-Ku) sungguh adzab-Ku amatlah pedih”

(QS. Ibrahim : 7)

Mengubah Kebiasaan Buruk

Keadaan apapun yang terjadi terhadap diri sendiri baik suka maupun duka, kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas.

Kamu pernah gak mengalami suatu keadaan yang membuatmu merasa senang atau sedih, entah itu karena teman, keluarga, maupun orang lain?

Saya pernah mengalaminya dan dari semua kejadian tersebut pasti ada hikmah serta pelajaran yang bisa diambil supaya kita menjadi manusia yang lebih baik.

Jika dulu kamu pernah berbuat tidak baik(jahat) terhadap seseorang maupun dirimu sendiri, maka kamu harus mulai berubah dari sekarang.

Belajar dari kesalahan di masa lalu dan memperbaiki hal itu, berusaha menghilangkan kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik serta bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Efeknya dapat dirasakan oleh diri kita sendiri dan orang lain, yang dulunya suka ngomong kasar sekarang sudah mulai berbicara dengan bahasa yang baik.

Jika kita berbicara dengan tutur bahasa yang baik dan sopan. Orang lain tentunya akan merasa nyaman saat berbicara dengan kita.

Kalo gak percaya coba aja kamu bandingkan saat berbicara bersama orang yang tutur bahasanya baik dan sopan dengan orang yang bicaranya kasar.

Pasti lebih enak bicara dengan orang yang tutur bahasanya baik dan sopan, kecuali kalo kamu bicaranya juga pakai bahasa yang kasar.

Hal ini bisa berlaku untuk kebiasaan buruk yang lain, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Belajar dari pengalaman supaya menjadi pribadi yang lebih baik atau melakukan kesalahan terus-menerus.

Berlapang Dada

Lapang dada merupakan salah satu sifat penting yang hendaknya kita miliki. Sifat ini sama dengan rasa sabar ketika menghadapi peristiwa yang kurang menyenangkan.

Apabila kamu mengalami peristiwa tersebut maka bersabarlah, pasti ada hikmah dibalik itu semua, dimulai dari diri kita sendiri.

Jika ada seseorang atau peristiwa yang tidak menyenangkan, jangan langsung emosi, kepala dan hati harus tetap dingin.

Saya pernah mengalaminya dan tanpa pikir panjang langsung emosi, ternyata hal yang saya lakukan tersebut salah, tentunya ada rasa penyesalan.

Karena rasa penyesalan itu datangnya diakhir, kalau diawal itu namanya udah sadar.

Sebelum penyesalan itu datang lagi maka mulailah memperbaiki diri dari sekarang, dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu.

Apabila hal yang kecil saja kita tidak bisa menyikapinya dengan baik, bagaimana dengan hal yang lebih besar?

Jika tidak dimulai dari diri kita sendiri, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

Mulailah berlapang dada dalam menghadapi cobaan hidup, dimulai dari sekarang dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Jangan Mengeluh

Kamu pernah gak, merasa pasrah dan mengeluh dengan suatu keadaan?

Rasanya seperti ingin udahan ajalah, menyerah dan menyudahi keadaan ini secepat mungkin, sudah tidak sanggup lagi melanjutkannya.

That’s wrong.

Jangan mengeluh dengan keadaan, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, carilah solusi dari masalah tersebut dan mulai menyelesaikannya, tidak ada waktu untuk terus mengeluh.

Kita harus tetap berusaha bagaimanapun keadaan yang terjadi, walau badai menghadang pasti akan berlalu.

Misalnya, kamu dikasih banyak tugas dalam sehari lalu mengeluh sana sini. Tentu tugasmu gak akan selesai kalau kerjaannya ngeluh terus.

Cobalah untuk berhenti mengeluh dan menganggap tugas tersebut sebagai kewajiban yang harus diselesaikan dan hal yang kamu sukai. Berusaha mengerjakannya terlebih dahulu sedikit demi sedikit.

Apabila belum selesai tidak masalah, setidaknya kita sudah berusaha dan mencoba semaksimal mungkin. Selesai alhamdulillah, kalau belum ya gapapa.

Sudah berusaha mengerjakan tetapi belum selesai lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali.

Idealnya ya dikerjakan sampai selesai.

Setelah terbiasa untuk tidak mengeluh dan berusaha menyelesaikan masalah dengan mencari solusinya. Kita akan merasa lebih semangat ketika mengerjakan sesuatu dan hidup menjadi lebih indah tanpa mengeluh.

Bersyukur Dengan Apa yang Dimiliki

Kita bisa belajar bersyukur dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Cobalah melihat orang lain yang kekurangan bahkan untuk makanpun mereka belum tahu hari ini bisa makan atau tidak tetapi mereka masih bersyukur.

Bagaimana dengan kita yang masih memiliki harta, masih bisa makan, atau memiliki harta berlebih.

Seharusnya hal tersebut dapat menjadikan acuan diri kita supaya selalu bersyukur pada-Nya

Bersyukur adalah sebuah keputusan, dimana kita berserah diri dan berterima kasih atas segala kenikmatan yang  diperoleh.

Misal, ketika kita mempunyai motor, lalu kita menginginkan mobil. Keinginan yang tidak ada habisnya membuat kita tidak pernah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dimiliki.

Selalu ada keinginan lain yang terus bermunculan, tidak masalah jika kita menginginkan sesuatu.

Tapi apakah kita perlu atau sudah membutuhkan barang tersebut? Jika belum, tahan dulu hawa nafsumu sampai benar-benar membutuhkannya.

Saya pernah mendengar cerita ustadz saat ingin membeli mobil karena sedang membutuhkannya.

Beliau sampai berdiskusi bersama keluarganya, dan memikirkan apakah benar-benar membutuhkan mobil sampai satu tahun lamanya, Masyaallah.

Beliau juga memikirkan bagaimana perasaan tetangga, lingkungan sekitar, dan masyarakat nanti jika sudah memiliki mobil.

Satu tahun, waktu yang cukup lama untuk ingin membeli mobil dan memikirkannya. Tetapi itulah hakikat dari bersyukur dan merasa cukup.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari ustadz saya, dari bagaimana cara kita hidup dengan penuh bersyukur dan selalu merasa cukup dengan harta yang dimiliki.

Akan lebih baik lagi jika kita bisa berbagi dengan orang lain, khususnya orang yang sedang kesusahan.

Saya belajar dari ustadz jika kita membeli atau menginginkan sesuatu harus dipikir dengan matang terlebih dahulu, apakah kita memang sangat memerlukannya atau tidak.

Penutup

Tulisan ini tidak bermaksud mengajari siapapun, tetapi sebagai nasihat dan pengingat diri saya sendiri, supaya menjadi orang yang lebih bersyukur dan selalu merasa cukup.

Saya masih harus belajar lebih banyak lagi dan terus melatih diri, hingga bersyukur menjadi kebiasaan dan mendapat rahmat dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Belajar dari sekarang dan jangan mengulangi kesalahan yang sama, masa lalu yang buruk ada untuk masa depan yang lebih baik.

Belajar bersyukur dengan keadaan apapun. Belajarlah dari kesalahan dan mulai memperbaiki diri.

Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua, Amin.

Sekian.

Tinggalkan komentar