Majas Alegori

Majas atau gaya bahasa merupakan penggunaan berbagai ragam bahasa untuk memperoleh efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra menjadi semakin hidup, seperti majas alegori.

Beberapa kelompok penulis sastra memiliki ciri, cara khas dalam menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan mereka baik dalam bentuk tulisan maupun lisan.

Majas yang digunakan dalam penulisan karya sastra, termasuk di dalamnya ada puisi dan prosa.

Pada umumnya, puisi menggunakan lebih banyak majas jika dibandingkan dengan prosa.

Dalam percakapan sehari-hari di masyarakat, terkadang mereka juga memakai majas atau gaya bahasa tanpa disadari.

Pengertian Majas Alegori

Majas alegori adalah majas yang menyatakan maksud sesuatu pada kalimat secara tidak harfiah, melalui kiasan atau penggambaran.

Sama seperti majas hiperbola dan majas metonimia, majas alegori termasuk dalam kategori jenis majas perbandingan.

Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut

Ciri-ciri Majas Alegori

Ada beberapa ciri-ciri yang dimiliki oleh majas alegori, yaitu :

  • Dalam kalimat majas alegori merujuk kepada penggunaan retrorika, yaitu keterampilan berbahasa secara efektif.
  • Menyatakan sesuatu di dalam kalimat dengan menggunakan kiasan atau penggambaran.
  • Kiasan atau penggambaran terdapat dalam sebuah cerita atau uraian yang akan membuat lebih kompleks.

Contoh Majas Alegori

contoh majas alegori
pixabay,.com

Contoh penerapan dalam kalimat :

  1. Alur kehidupan ini bagaikan meniti sebuah perjalanan yang selalu berubah-ubah, kadang lurus dan ada banyak kelokan.
  2. Anak manusia yang baru saja lahir (bayi) ibarat sebuah kertas putih tanpa noda.
  3. Semua kenikmatan yang berada di dunia ini seperti fatamorgana yang semu.

Penjalasan kalimat tersebut :

  1. Pada kalimat pertama di atas mengungkapkan permasalahan dan rintangan dalam alur kehidupan manusia yang seperti jalan lurus dan kadang berkelok.
  2. Pada kalimat kedua di atas mengungkapkan keadaan seorang anak manusia yang baru saja lahir (bayi) diibaratkan sebuah kertas putih tanpa noda. Maksudnya masih bersih, suci, dan belum ada dosa.
  3. Pada kalimat ketiga di atas menggungkapkan tentang semua kenikmatan di dunia ini seperti fatamorgana yang semu. Maksudnya kenikmatan di dunia ini merupakan suatu hal yang bersifat khayalan semata serta penuh tipu dan muslihat.

Contoh 1

  1. Di zaman sekarang ini, menemukan seseorang yang memiliki kepribadian jujur ibarat mendapatkan jarum dalam tumpukan jerami.
  2. Menjalani hubungan di kehidupan berumah tangga seperti menjalani sebuah bahtera di lautan yang sangat luas. Terkadang, kita akan menyaksikan keindahan panorma lautan yang sangat mempesona, tapi tak jarang pula hantaman ombak dan badai menerpa serta membuat guncangan dahsyat ke tubuh kita.
  3. Lidah manusia itu bagaikan harimau, yang bisa menerkam manusia, sehingga kita harus bijak dalam menggunakannya.
  4. Tadi siang dia memasak sup ayam, rasa kuah sup masakannya seperti air di lautan.
  5. Hubungan antara sesama manusia bagaikan rangkaian huruf. Seindah apapun huruf yang terukir, maka tidak akan ada maknanya jika tanpa adanya spasi, tidak dapat dipahami tanpa adanya jeda, kasih sayang tidak akan muncul tanpa adanya jarak.
  6. Hidup itu bagaikan baling-baling kincir angin. Titik yang berada di bawah akan merasakan ketinggian, begitu juga sebaliknya. Seberapa besar keinginan berada dalam satu titik, baling-baling harus tetap berputar supaya dapat menghasilkan listrik.
  7. Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus mengayuh.
  8. Hidup di dunia laksana rangkaian keyboard piano. Ada keyboard berwarna putih dan ada yang berwarna hitam. Orang yang tidak berusaha untuk memahaminya, maka hanya akan mengetahui nada dasar. Namun, jika dimainkan oleh orang yang mengetahuinya, maka akan menghasilkan alunan melodi yang merdu.
  9. Ibadah itu ibarat berdagang. Ada tempat untuk berjualan, kepercayaan dan iman menjadi modalnya, kemudian pahala dan balasan di akhirat adalah keuntungannya.
  10. Sholat bagaikan sungai bersih yang mengalir di depan rumah kita. Orang yang mandi di dalam sungai itu akan bersih dari kotoran yang menempel di tubuhnya.

Contoh 2

  1. Dunia ini ibarat tumbuhan hijau yang mampu memanipulasi mata setiap manusia yang memandangnya. Begitu menakjubkan dan sangat indah. Namun, lambat laun ia tetap akan menguning, kering, dan pada akhirnya akan musnah.
  2. Kekayaan laksana air laut. Jika dibendung di satu tempat, maka semakin lama akan tumpah. Jika diminum, maka semakin membuat haus. Namun, jika letakkan dalam kotak-kotak dan dijemur, maka akan menghasilkan garam.
  3. Kebohongan ibarat memakan anggur merah. Tidak akan cukup jika hanya satu buah, pasti akan diikuti oleh, maka akan diikuti oleh kebohongan-kebohong yang lainnya.
  4. Kemarahan bagaikan api. Semakin disulut, maka akan semakin besar. Oleh sebab itu, jangan di siram dengan minyak mendidih tetapi siramlah dengan air yang menyejukkan.
  5. Ilmu adalah sebuah cahaya. Menerangi kegelapan dan juga membantu manusia dalam melakukan kewajibannya. Dengan cahaya, manusia dapat mengetahui dan melihat indahnya dunia. Tanpa cahaya, manusia bisa tersandung dan terjatuh ke dalam jurang yang curam.
  6. Tubuh manusia ibarat sebuah mesin. Bekerja di siang dan malam hari, terkadang dipaksa hingga melampaui batas kemampuan kerjanya. Apabila tidak diberi waktu istirahat, maka mesin tersebut akan cepat rusak. Oleh sebab itu, kita harus membiasakan istirahat secara teratur. Sehingga biaya dan waktu untuk memperbaiki mesin sudah tidak diperlukan lagi.
  7. Alur kehidupan manusia bagaikan kompilasi genre film. Terkadang ada drama romantis, terkadang ada komedi, beberapa memiliki kisah thriller dan horor. Terkadang banyak mengundang tawa yang membuat bahagia dan duka yang membuat kita meneteskan air mata. Hingga pada akhirnya akan mencapai ending filmnya.
  8. Waktu ibarat pedang yang tajam. Apabila seseorang menggunakannya dengan benar dan teliti, maka ia akan sangat berguna. Namun, jika digunakan oleh seseorang yang ceroboh, ia akan menyebabkan bencana.
  9. Orang yang beriman akan hidup bagaikan lebah. Dia hanya makan, makanan yang baik dan minum, minuman yang baik. Pergi ke tempat-tempat yang baik dan akan menghasilkan sesuatu yang baik (madu).
  10. Al-Qur’an adalah rambu yang dapat memandu dan mengarahkan kita ke hadirat Ilhai Rabbi. Selama kita patuh terhadap semua rambu tersebut, maka kita akan tetap selamat hingga tujuan akhir.

Contoh Soal Majas Alegori

Sekarang kita akan mencoba beberapa contoh soal majas alegori, pastikan jika kamu sudah membaca dan memahami mengenai penjelasan di atas supaya bisa lebih mudah saat menjawabnya.

Contoh Soal 1

Pada kalimat di bawah ini, manakah yang menggunakan gaya bahasa alegori?

A. Hidup itu seperti roda naik sepeda. Untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus mengayuh.

B. Orang yang melanggar peraturan akan dihukum karena tidak mematuhi peraturan.

C. Ilmu itu penting, jadi kita harus tetap terus belajar dan mencari ilmu.

D. Waktu terus berjalan dan tidak dapat diulang kembali, jadi kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Jawaban : A. Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus mengayuh.

Kalimat di atas termasuk dalam gaya bahasa alegori karena menggunakan kiasan “Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus mengayuh.”

Maksud dari kalimat tersebut adalah kita harus terus bergerak atau bekerja untuk tetap menjaga keseimbangan.

Contoh Soal 2

Pilihlah kalimat di bawah ini yang menggunakan gaya bahasa alegori!

A. Kesombongan adalah hal yang tidak baik, jadi kita tidak boleh merasa sombong dan tetap rendah hati.

B. Kemarahan bagaikan api. Semakin disulut, maka akan semakin besar. Oleh sebab itu, jangan di siram dengan minyak mendidih tetapi siramlah dengan air yang menyejukkan.

C. Jika kita mempunyai tujuan atau cita-cita, maka kita harus selalu berdoa dan berjuang untuk mencapainya.

D. Jangan sampai kita memiliki sifat hidup boros karena keinginan semata, kita harus membeli sesuatu berdasarkan keperluan saja.

Jawaban : B. Kemarahan bagaikan api. Semakin disulut, maka akan semakin besar. Oleh sebab itu, jangan di siram dengan minyak mendidih tetapi siramlah dengan air yang menyejukkan.

Kalimat di atas termasuk dalam gaya bahasa alegori karena menggunakan kata “api” yang menggambarkan kemarahan.

Maksud kalimat tersebut adalah kita jangan memicu hal-hal yang membuat seseorang marah atau menambah kemarahannya, kita harus berusaha untuk menenangkan orang yang sedang marah.

Kesimpulan

Majas atau gaya bahasa merupakan penggunaan berbagai ragam bahasa untuk memperoleh efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra menjadi semakin hidup.

Contohnya seperti majas alegori, majas litotes, dan majas yang lainnya.

Majas alegori adalah majas yang menyatakan maksud sesuatu pada kalimat secara tidak harfiah, melalui kiasan atau penggambaran.

Gaya bahasa ini termasuk dalam kategori jenis majas perbandingan.

Ciri-cirinya adalah menggunakan kiasan atau penggambaran untuk menjelaskan sesuatu di dalam kalimatnya.

Sekian.

Tinggalkan komentar